loading…
Pribadi Hasto Kusumo, Head of SME Business DOKU, menyebut ada fakta berbeda Bersama Topik seller yang meninggalkan marketplace belum lama ini. Foto: DOKU
Di media sosial, seruan Untuk meninggalkan platform besar bermunculan Setelahnya sejumlah penyesuaian biaya diberlakukan. Tetapi data yang dihimpun penyedia jasa pembayaran justru menggambarkan situasi yang lebih terukur daripada yang tergambar Di lini masa.
Pribadi Hasto Kusumo, Head of SME Business DOKU, menilai istilah yang Pada ini dipakai kurang tepat Untuk menggambarkan apa yang sesungguhnya terjadi Di lapangan. “Sebenarnya perlu sedikit diluruskan bahwa pelaku Dan Menengah bukan kabur, tapi melakukan penyeimbangan ulang. Yang terjadi Di lapangan bukanlah eksodus. Brand tidak menutup toko mereka, melainkan menyeimbangkan ulang Usaha mereka agar tidak bergantung 100 persen Ke satu platform,” ujar Hasto Di wawancara khusus Bersama SINDOnews.
Menurut dia, langkah tersebut merupakan respons yang wajar Di kenaikan biaya berlapis Di marketplace sepanjang tahun ini, termasuk penyesuaian biaya administrasi dan Ekspedisi Ke 2026. “Ketika beban naik dua sampai tiga kali Di setahun, wajar kalau brand mulai berhitung ulang. Dan yang mengubah perilaku sebetulnya bukan besarnya kenaikan, tapi keyakinan bahwa kenaikan itu bisa terjadi lagi. Itu yang membuat brand mulai membangun jaring pengaman,” katanya.
Kegelisahan pelaku usaha itu telah sampai Di tingkat kementerian. Pembantu Presiden Pembantu Presiden Dan Menengah Maman Abdurrahman Berkata keluhan mengenai biaya platform masuk hampir setiap hari Melewati pesan langsung Instagram, Facebook, maupun WhatsApp. Kementerian Perdagangan pun mempercepat revisi Peraturan Pembantu Presiden Pembantu Presiden Perdagangan Nomor 31 Tahun 2023, yang Di lain mewajibkan platform Pasar Online merinci seluruh komponen biaya kepada penjual. Pembantu Presiden Pembantu Presiden
Perdagangan Budi Santoso menyebut revisi tersebut telah memasuki tahap finalisasi Ke pertengahan Mei 2026 silam.
Di sisi tarif, sejumlah marketplace memberlakukan kenaikan tarif layanan. Bersama biasanya 1,5 persen menjadi 2 persen. Di beberapa kategori seperti Trend, misalnya, kenaikannya Bersama 5,5 persen menjadi 7,5 persen per transaksi. Di pertanyaan mengenai adanya pergeseran kanal, Hasto lebih dahulu menjelaskan keterbatasan sudut pandang perusahaan.
“DOKU melihat transaksi yang berlangsung Di kanal langsung merchant, bukan transaksi mereka Di marketplace. Lantaran itu, kami tidak mengukur berapa banyak merchant yang meninggalkan marketplace. Yang dapat kami ukur adalah perkembangan kanal langsungnya,” ujarnya. Bersama sudut pandang tersebut, angkanya justru Di dugaan. “Ke merchant yang aktif bertransaksi Di kedua periode Januari-Juli 2025 dan Januari-Juli 2026, jumlah transaksinya Menimbulkan Kekhawatiran lebih Bersama dua kali lipat, dan trend menunjukan Berencana Lebih Menimbulkan Kekhawatiran. Hal ini menunjukan brand lokal Lebih sadar Berencana pentingnya kanal penjualan mandiri,” kata Hasto.
Kemajuan itu tidak terkonsentrasi Ke segelintir merchant besar. Berdasarkan data internal DOKU Ke periode Januari-Juli 2026 dibandingkan periode yang sama tahun Sebelumnya Itu, lebih Bersama sepertiga merchant berhasil Memperbaiki jumlah transaksi Di kanal mandirinya lebih Bersama dua kali lipat. Secara keseluruhan, separuh Bersama total merchant aktif juga mencatatkan Kemajuan nilai transaksi setidaknya 20 persen.
Meski demikian, Hasto menolak membaca angka tersebut sebagai tanda berpindahnya pasar.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Ramai Topik Seller Tinggalkan Marketplace, Data DOKU Justru Berkata Lain!











