Kabar mengejutkan datang Di gelaran Asian Games 2026 Aichi-Nagoya. Pebulu tangkis muda asal Thailand, Pitchamon Opatniputh (19), dinyatakan positif menggunakan zat terlarang Di tes Dilarang. Peristiwa Pidana ini menjadi temuan Dilarang pertama yang terungkap Hingga ajang Latihan terbesar se-Asia tersebut.
Pebulu tangkis Pangkat 18 dunia itu positif mengonsumsi furosemide berdasarkan sampel yang diambil Didalam Badan Pengujian Internasional atau International Testing Agency (ITA) Di tes Hingga luar Kejuaraan (out-of-competition) tanggal 17 September Hingga Nagoya.
Sebab, Pitchamon langsung dijatuhi skorsing Sambil dan dilarang bertanding, berlatih, maupun berpartisipasi Di seluruh kegiatan Di Asian Games 2026 berlangsung. Padahal, ia dijadwalkan turun membela Thailand melawan Tiongkok Hingga nomor beregu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Olahragawan tersebut dilarang bertanding, berlatih, melatih, atau berpartisipasi Di Kegiatan apa pun Di Asian Games Aichi-Nagoya 2026,” tegas ITA Di pernyataan resminya, dikutip Di Bangkok Post.
Lantas, Terapi apa sebenarnya furosemide itu dan mengapa zat tersebut dilarang keras Hingga dunia Latihan?
Mengenal Terapi Furosemide
Mengutip Sport Integrity Australia, furosemide merupakan Terapi golongan loop diuretic (diuretik kuat) yang biasa digunakan Sebagai membuang cairan serta elektrolit berlebih Di Di tubuh Lewat urine.
Secara medis, Terapi keras yang harus menggunakan resep Ahli Kebugaran ini umumnya ditujukan Sebagai mengatasi:
- Hipertensi (tekanan darah tinggi)
- Gagal jantung
- Gangguan ginjal
- Retensi cairan (edema atau penumpukan cairan tubuh)
Terapi ini bekerja Di tubulus ginjal Didalam menghambat penyerapan kembali natrium dan klorida, Agar memicu peningkatan pembuangan air lewat saluran kemih.
Alasan Dikatakan Dilarang dan Dilarang WADA
Badan Anti-Dilarang Dunia atau World Anti-Dilarang Agency (WADA) memasukkan furosemide Hingga Di daftar zat terlarang kategori S5: Diuretic and Masking Agent (Diuretik dan Agen Penggalang/Penutup). Zat ini dilarang penggunaannya setiap Pada, baik Hingga Di maupun Hingga luar Kejuaraan.
Di dunia Latihan, diuretik seperti furosemide sering kali disalahgunakan Sebagai dua tujuan utama:
Pencepat penurunan berat badan: Membantu Olahragawan membuang cairan tubuh secara drastis Di waktu singkat agar memenuhi Seleksi kelas berat badan tertentu.
Agen penutup (masking agent): Mendorong pembentukan urine Di jumlah besar Sebagai mengencerkan jejak zat terlarang atau steroid lain Hingga Di tubuh agar tidak terdeteksi Pada tes urine.
WADA menetapkan bahwa furosemide memenuhi kriteria larangan Lantaran Berpeluang Memperbaiki Prestasi secara tidak jujur, melanggar semangat Latihan, serta menyimpan risiko Kesejajaran yang berbahaya Untuk Olahragawan.
Bahaya Efek Di dan Penyalahgunaan
Penggunaan furosemide tanpa pengawasan medis ketat-terlebih jika disalahgunakan Didalam dosis tinggi Didalam Olahragawan-Memiliki sejumlah risiko Kesejajaran serius, seperti:
- Dehidrasi parah
- Ketidakseimbangan elektrolit Di tubuh
- Tekanan darah drop secara drastis (hipotensi ekstrem)
Malahan, penggunaan sesuai resep medis pun tetap Memiliki efek Di yang perlu diwaspadai, mulai Di gangguan pencernaan (mual, muntah, diare), sakit kepala, pusing, hingga risiko Luka ginjal akut dan gangguan fungsi hati.
Pihak ITA menyampaikan bahwa Pitchamon masih Memiliki hak Sebagai membela diri atas Hukuman Politik ini.
“Olahragawan dapat mengajukan banding atas skorsing Sambil ini Hingga Lembaga Proses Hukum Arbitrase Latihan (CAS). Olahragawan juga Memiliki hak Sebagai meminta analisis sampel-B,” tambah pernyataan ITA.
Halaman 2 Di 2
(sao/dpy)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Olahragawan Thailand Positif Dilarang Furosemide Hingga Asian Games 2026, Terapi Apa Itu?











